MediaSuaraMabes, Bukittinggi – Momen haru menyelimuti keluarga jurnalis RRI Bukittinggi, Jhoni Marbeta, SE.Ak., CA, setelah anaknya Zaid Arkhan Khairy sukses mengkhatamkan Al-Qur’an. Pencapaian spiritual muda ini bukan hanya kebanggaan keluarga, melainkan juga menarik perhatian publik karena ucapan selamat yang datang dari tokoh nasional kelas atas.
Siapa sangka, ucapan tersebut berasal dari Presiden Prabowo Subianto, mantan Panglima TNI Andika Perkasa, hingga petinggi TNI AU dan AL. Momen ini sungguh istimewa dan “tak kaleng-kaleng” – terutama ketika melihat latar belakang ayahnya sebagai PPPK di lembaga pemerintah.
Di tengah stigma yang sering menyandarkan PPPK sebagai “anak tiri” dibandingkan PNS dalam birokrasi Indonesia, peristiwa ini seperti tamparan halus terhadap pandangan semacam itu. Realitas telah membuktikan: status administratif bukanlah tembok yang menghalangi pembangunan jejaring, pengaruh, maupun kehormatan. Dedikasi, integritas, dan relasi yang luas mampu menembus sekat struktural yang selama ini dianggap membatasi.
“Ini bukan sekadar seremoni Khatam Al-Qur’an, tetapi simbol bahwa kualitas pribadi dan kontribusi nyata jauh lebih menentukan daripada label status kepegawaian,” demikian ungkap seorang pengamat sosial di Bukittinggi.
Momentum ini juga menjadi renungan bagi pemerintah: apakah sudah cukup adil dan proporsional dalam memperlakukan PPPK? Di tengah tuntutan reformasi birokrasi, perbedaan perlakuan antara PPPK dan PNS masih menjadi isu krusial yang tak bisa diabaikan.
Sementara itu, keberhasilan Zaid Arkhan Khairy di usia muda menjadi inspirasi bagi generasi milenial dan Gen Z. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tantangan moral, capaian ini mengingatkan bahwa nilai-nilai religius tetap relevan dan patut dijaga.
Peristiwa ini akhirnya membawa pesan kuat: kehormatan, relasi, dan keberhasilan tidak ditentukan oleh status formal semata. Yang lebih penting adalah kualitas diri, nilai yang dipegang, dan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Dari Bukittinggi, sebuah pesan lantang terdengar: status boleh jadi PPPK, tapi pergaulan dan prestasi – jelas tak kaleng-kaleng.
(FK/YamanLbs)








